SMP Negeri 1 Tenggarong berada di Jalan Ki Hajar Dewantara, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur
KUTAI KARTANEGARA, SAMBARANEWS.COM – Sebanyak 989 siswa SMP Negeri 1 Tenggarong mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) setelah kegiatan belajar tatap muka dihentikan sementara akibat cuaca ekstrem dan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Penerapan PJJ di sekolah tersebut dinilai tidak menemui kendala berarti. Selain dukungan jaringan dan fasilitas sekolah, setiap siswa telah memiliki Chromebook yang dapat digunakan untuk mengikuti pembelajaran dari rumah.
Kepala SMP Negeri 1 Tenggarong, Iman Huzaeni, mengatakan pihak sekolah telah menerima Surat Edaran Bupati Kukar Nomor B-54/SET-II/400.3.1/09/2026 yang diterbitkan pada Rabu (2/9/2026).
“Surat edaran dari Bupati sudah kami terima dan langsung kami tindak lanjuti dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi seluruh siswa,” ujarnya, Kamis (3/9/2026).
Menurut Iman, ketersediaan perangkat menjadi salah satu faktor yang membantu kelancaran pelaksanaan PJJ. Setiap siswa di SMPN 1 Tenggarong telah dibekali satu Chromebook untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
“Untuk fasilitas terkait PJJ saya kira enggak ada masalah. Karena masing-masing siswa juga sudah dibekali satu siswa satu Chromebook,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, guru menggunakan Google Classroom untuk menyampaikan sekaligus menerima tugas dari siswa. Sedangkan pembelajaran yang membutuhkan interaksi langsung dilakukan melalui Google Meet.
“Ya, ada Classroom. Kemudian kalau yang pertemuannya menggunakan G-Meet. Tatap muka, Google Meet,” tuturnya.
Meski kegiatan belajar dilakukan dari rumah, kehadiran siswa tetap menjadi perhatian sekolah. Siswa yang tidak mengikuti pembelajaran melalui Google Meet akan dicatat tidak hadir.
“Kalau mereka tidak mengikuti ya dihitung alfa. Kan pada saat pertemuan tatap muka yang pakai Google Meet itu kan kelihatan,” tegas Iman.
Saat ini, SMPN 1 Tenggarong memiliki 989 siswa yang terbagi dalam 30 rombongan belajar (rombel) untuk kelas VII, VIII, dan IX.
Sebagian besar siswa berdomisili di sekitar sekolah. Namun, terdapat pula siswa yang tinggal cukup jauh karena sebelumnya diterima melalui jalur prestasi.
Untuk kebutuhan internet, Iman mengatakan paket data selama PJJ masih menjadi tanggung jawab masing-masing orang tua. Meski demikian, menurutnya, hal tersebut sejauh ini masih dapat diatasi.
“Ya, tinggal barangkali kalau terkait paket data dan sebagainya itu masih tanggungan dari orang tua. Jadi, istilahnya masih bisa diatasi untuk PJJ,” terangnya.
Sementara bagi guru, sekolah memberikan fleksibilitas dalam menentukan lokasi mengajar. Guru dapat melaksanakan pembelajaran dari rumah maupun dari sekolah.
Jika mengalami kendala jaringan internet di rumah, guru diperbolehkan menggunakan fasilitas Wi-Fi yang tersedia di sekolah.
“Kalau seandainya di rumah barangkali jaringan jelek dan sebagainya silakan di sekolah. Sekolah kan difasilitasi oleh Wi-Fi ada. Tapi kalau memang di rumah bisa ya enggak apa-apa di rumah,” katanya.
Selain pembelajaran tatap muka, sejumlah kegiatan sekolah yang melibatkan aktivitas fisik di luar ruangan juga dihentikan sementara selama kondisi cuaca dan kabut asap belum memungkinkan.
Kegiatan tersebut meliputi olahraga, ekstrakurikuler, hingga salat Zuhur berjamaah di Masjid Agung Tenggarong yang biasanya diikuti para siswa.
“Kegiatan olahraga, ekstrakurikuler dan salat Zuhur berjamaah yang biasanya kita lakukan setiap hari di Masjid Agung, itu sudah kita tiadakan sementara,” tutupnya.
Wartawan: Kusma


Pemkab Kukar Kejar Pelunasan Utang, 80 Persen Terbayar di Tengah Ketidakpastian Dana Pusat
Kutai Timur Percepat Program PSR, Sasar 1.900 Hektare Kebun Sawit Rakyat
Siswa Belajar dari Rumah, SMPN 1 Tenggarong Hentikan Sementara MBG
Disdikbud Kukar Terbitkan Edaran PJJ, Sekolah Diminta Sesuaikan Kondisi Wilayah
Tekan Risiko ISPA, Siswa PAUD hingga SMP di Kukar Belajar dari Rumah
Di Tengah Kemarau dan Karhutla, Warga Kukar Satukan Doa Memohon Hujan
Dua Anak di Kukar Diduga Dianiaya Ayah Kandung, Alami Trauma dan Luka