Sapi kurban yang telah laku terjual di lapak pedagang Tenggarong menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Tenggarong, Sambaranews.com – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, penjualan hewan kurban di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Melemahnya daya beli masyarakat disebut menjadi salah satu faktor utama sepinya pembeli tahun ini.
Salah satu penjual hewan kurban di kawasan Jalan Ahmad Dahlan, Kelurahan Mangkurawang, Ronny mengatakan penjualan sapi dan kambing pada 2026 jauh lebih rendah dibanding 2025.
“Tahun 2025 saya sudah mencapai 35 ekor sapi lebih. Tahun ini baru sekitar 18 ekor yang keluar, masih tersisa enam,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).
Ia menyebut penurunan juga terjadi pada penjualan kambing. Dari sekitar 24 ekor yang disiapkan, baru sekitar tujuh hingga delapan ekor yang terjual, jauh menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 50 ekor.
“Kalau dibanding tahun lalu, peminat memang berkurang,” katanya.
Ronny memperkirakan penurunan penjualan hewan kurban tahun ini mencapai sekitar 35 persen dibanding musim kurban 2025. Kondisi tersebut juga dirasakan pedagang lain di wilayah Tenggarong.
“Kalau menurut saya, tahun ini memang menurun. Sesama pedagang juga merasakan hal yang sama, mungkin karena kurang perputaran uang di masyarakat,” ujarnya.
Untuk harga, sapi Bali yang dijual dibanderol mulai Rp17 juta hingga Rp23 juta per ekor, sementara kambing berkisar antara Rp3,7 juta hingga Rp6,5 juta per ekor. Ia menyebut harga relatif stabil dan tidak terpengaruh fluktuasi nilai tukar dolar.
Ronny memastikan pasokan hewan kurban tidak mengalami kendala. Menurutnya, stok masih tersedia cukup banyak dari pemasok, namun tantangan utama ada pada tingkat pembelian masyarakat.
“Barang tidak masalah, yang menurun itu peminatnya,” jelasnya.
Ia menduga salah satu faktor penyebab turunnya daya beli adalah belum cairnya gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara, yang pada tahun-tahun sebelumnya biasanya sudah keluar sekitar dua minggu sebelum Iduladha. Selain itu, berkurangnya kegiatan arisan dan kelompok tabungan di masyarakat juga dinilai turut berpengaruh.
“Kalau dulu ada gaji 13, biasanya kurang dua minggu sudah keluar. Orang-orang juga dulu berbondong-bondong beli lewat arisan kurban, sekarang sudah berkurang,” tuturnya.
Ronny telah menekuni usaha penjualan hewan kurban selama 16 tahun. Ia berharap pemerintah daerah dapat mendorong peningkatan daya beli masyarakat, khususnya menjelang hari raya, agar geliat ekonomi pedagang kembali pulih seperti tahun sebelumnya.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Pemkab Kukar Serahkan Bus untuk SLBN Tenggarong
Kolaborasi SMK Parti dan Ponpes Darul Izza di Kukar Ubah Eks Tambang Jadi Lahan Produktif
92 Kg Sabu Disita, Polres Kutim dan BNN RI Bongkar Jaringan Narkoba Nasional
Korupsi Tambang di Kukar, Kejati Kaltim Kembali Selamatkan Rp57,45 Miliar
Program Seragam Gratispol Disambut Positif, Siswa di Kaltim Akui Sangat Membantu
Penjualan Hewan Kurban di Tenggarong Menurun