Kolam ikan yang di kelola Lapas Kelas IIA Tenggarong.
TENGGARONG, SAMBARANEWS.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong mulai memperkenalkan Sarana Asimilasi Edukasi (SAE) kepada masyarakat umum. Berada di Jalan Mangkuraja, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), SAE ini menjadi salah satu sarana pembinaan warga binaan sekaligus ruang edukasi yang nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pengenalan tersebut dilakukan melalui kegiatan lomba mancing yang digelar di kolam SAE Pastarung, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan itu diikuti sekitar 25 peserta yang merupakan perwakilan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Kalimantan Timur.
Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan keberadaan SAE kepada insan pemasyarakatan sebelum nantinya dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.
“Tujuannya pertama untuk memperkenalkan SAE ini kepada insan-insan pemasyarakatan. Nantinya sarana ini bisa dimanfaatkan oleh warga binaan maupun masyarakat dari luar,” kata I Wayan.
Ia menjelaskan, SAE tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan warga binaan. Tempat tersebut disiapkan sebagai ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, untuk mengenal secara langsung kegiatan pertanian, perkebunan dan perikanan.

Menurutnya, keberadaan SAE penting untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai proses menghasilkan bahan pangan yang selama ini lebih banyak mereka temui dalam bentuk makanan siap konsumsi.
“Anak-anak sekarang tahunya nasi sudah ada di meja makan, sayur juga ada di meja makan. Mereka hampir tidak memahami bagaimana prosesnya. Di sini kami memberikan wadah agar mereka bisa belajar pertanian, perkebunan ataupun pemeliharaan ikan,” jelasnya.
Di kawasan SAE seluas sekitar 4.000 meter persegi itu, warga binaan dilibatkan dalam berbagai kegiatan produktif. Mulai dari menanam sayuran, memelihara ikan hingga memproduksi tempe.
Hasil produksi sementara dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan internal Lapas Tenggarong. Sayuran yang dipanen, misalnya, dipasarkan melalui koperasi lapas dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Begitu pula dengan produk tempe yang diproduksi warga binaan.
Ke depan, hasil produksi tersebut tidak menutup kemungkinan dipasarkan lebih luas kepada masyarakat apabila kapasitas produksi telah memenuhi kebutuhan internal lapas.
Selain kegiatan pertanian dan perikanan, Lapas Tenggarong juga menyiapkan pengembangan usaha peternakan ayam petelur di Jahab. Kandang berukuran sekitar 8 x 80 meter tersebut direncanakan mampu menampung hingga 8.000 ekor ayam.
Seluruh kegiatan produktif tersebut melibatkan warga binaan sebagai bagian dari proses pembinaan dan persiapan sebelum mereka kembali ke tengah masyarakat.

I Wayan mengatakan, pembinaan melalui SAE juga menjadi bagian dari upaya membangun penerimaan masyarakat terhadap warga binaan setelah menjalani masa pidana.
“Semua ini untuk integrasi. Kami ingin memperkenalkan bahwa warga binaan ini sebenarnya memiliki kemampuan dan keahlian untuk bersaing dengan masyarakat di luar,” ujarnya.
Ia menilai, penerimaan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam proses reintegrasi. Sebab, warga binaan yang telah bebas membutuhkan lingkungan yang dapat menerima mereka kembali agar tidak kembali melakukan pelanggaran hukum.
Melalui SAE, masyarakat diharapkan dapat melihat langsung proses pembinaan yang dijalani warga binaan serta keterampilan yang mereka miliki.
“Ketika masyarakat sudah bertemu dan mengenal mereka di sini, masyarakat bisa melihat bahwa mereka dibina dan tingkat risikonya sudah menurun. Mudah-mudahan setelah bebas mereka bisa diterima kembali di masyarakat,” tuturnya.
Saat ini, sekitar 35 warga binaan telah terlibat dalam berbagai kegiatan di SAE. Jumlah tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bidang setelah seluruh sarana selesai dikembangkan.
Tak hanya menjadi tempat pembinaan, Lapas Tenggarong juga tengah menyiapkan pengembangan produk hasil karya warga binaan melalui sebuah merek bernama Nahlo.
Merek tersebut direncanakan digunakan untuk berbagai produk hasil karya warga binaan, mulai dari produk makanan hingga pakaian dan produk kreatif lainnya.
I Wayan mengatakan, merek Nahlo telah didaftarkan dan diharapkan menjadi identitas produk hasil karya warga binaan Lapas Tenggarong.
“Kami ingin semua produk kami memiliki brand Nahlo. Tujuannya untuk memperkenalkan bahwa ini merupakan karya warga binaan yang ada di sini,” pungkasnya.
Wartawan: Kusma


Family Gathering Polsek Loa Kulu, Personel dan Keluarga Perkuat Kekompakan di Luar Dinas
Andi Satya Resmi Pimpin Golkar Samarinda 2026–2031, Bidik Kemenangan Pemilu 2029
Kebakaran di Gang 9 Timbau, 4 Bangunan Ludes Terbakar dan 3 Terdampak
792 Warga Binaan Lapas Tenggarong Diusulkan Remisi, 70 Diajukan Amnesti
Legenda Putri Karang Melenu Hadir dalam Kemasan Digital di Museum Mulawarman
Dukung Ketahanan Pangan, 7 Ton Jagung Muara Wahau Dipasok ke Bulog Samarinda
Tim Bola Tangan Kaltim Borong 3 Emas dan 1 Perak di Kejurnas Junior Surabaya 2026