Sambaranews, JAKARTA – Pada awal perdagangan hari ini, harga emas dibuka dengan kenaikan yang lebih tinggi, melanjutkan tren positif selama tiga hari berturut-turut. Permintaan akan aset safe-haven terus meningkat, dan para pelaku pasar semakin yakin bahwa suku bunga bank sentral akan turun.
Pada perdagangan Senin (15/1/2024) harga emas di pasar spot ditutup menguat 0,28% di posisi US$ 2054,49 per troy ons. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 2 Januari 2024 atau delapan hari perdagangan terakhir. Penguatan kemarin juga memperpanjang tren positif emas yang menguat selama tiga hari beruntun dengan penguatan 1,54%.
Sementara, hingga pukul 06.05 WIB Selasa (16/1/2024), harga emas di pasar spot bergerak lebih tinggi atau naik 0,03% di posisi US$ 2055,17 per troy ons.
Harga emas naik pada perdagangan Senin, karena daya tarik logam tersebut didorong oleh permintaan safe-haven karena ketegangan di Timur Tengah, sementara pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunganya segera pada bulan Maret 2024.
Sementara itu, perang antara Israel dan Hamas telah melewati batas 100 hari ketika Israel melanjutkan serangan sengitnya, sementara ancaman milisi Houthi untuk menanggapi serangan udara AS di Yaman membuat risiko tetap tinggi.
Emas cenderung berkinerja baik selama gejolak ekonomi, dengan keandalan yang dapat membantu mengimbangi risiko aset yang lebih bergejolak dalam kondisi seperti ketidakpastian geopolitik.
“Emas di pasar spot juga meningkat karena pasar berpegang pada harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya pada awal Maret 2024,” ujar Han Tan, kepala analis pasar di Exinity Group, dilansir dari Reuters.
“Peluang emas untuk mencetak rekor tertinggi baru akan tetap terbuka selama The Fed dapat bergerak sesuai dengan ekspektasi pasar,” tambah Tan.
Hal lain yang mendukung kenaikan harga emas yakni data pada Jumat menunjukkan indeks harga produsen AS secara tak terduga turun pada periode Desember 2023. Indeks harga produsen AS turun 0,1% pada periode Desember 2023 dan pada akhir tahun 2023 naik 1% dari tahun lalu.
Kini para pelaku pasar memperkirakan kemungkinan sebesar 73% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunganya pada bulan Maret 2024, menurut alat pengawasan The Fed dari CME.
Penguatan harga emas juga ditopang oleh melandainya imbal hasil US Treasury dan indeks dolar. Pada perdagangan terakhir Jumat (12/1/2024), imbal hasil US Treasury melandai 3,95% pada perdagangan kemarin, terendah sejak 2 Januari 2024. Indeks dolar AS juga turun ke 102,44 atau terendah sejak 2 Januari 2024.
Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.
Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi. *(*)
sumber: research@cnbcindonesia.com


Ancaman Pengurangan PPPK 2027, Bupati Kukar: Opsi Terakhir dan Paling Menyakitkan
Bupati Kukar Serahkan 9,7 ton Beras untuk Petani Terdampak Gagal Panen di Rapak Lambur
Harga Plastik Melonjak hingga 40 Persen, Bebani UMKM di Tenggarong
11.505 Warga Kukar Masih Mencari Kerja, Pemkab Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
PHM Onstream Platform WPN-7, Tambah Produksi Gas hingga 20 MMSCFD dari Lapangan Sisi Nubi
Pinjaman Rp820 Miliar Kukar Dipertanyakan, Bupati: untuk Bayar Rekanan dan Jaga Ekonomi
Program Polantas Menyapa Permudah Layanan SIM dan STNK di Polres Kukar
Suparman Resmi Dilantik Jadi Kalapas Tanjungpinang, Tinggalkan Sejumlah Inovasi di Lapas Tenggarong
Bajaj Masuk Tenggarong, Pemkab Kukar: Operasional Tunggu Izin
Carut Marut Tangga Arung Square, Wabup Usulkan Revisi Perda Bersama DPRD