Kunjungan lapangan mahasiswa STIE Tenggarong di lokasi usaha pengembangan cacing tanah, Kamis (5/2/2026).
Tenggarong, Sambaranews.com – Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Tenggarong melakukan kunjungan lapangan ke usaha pengembangan cacing tanah yang berlokasi di Jalan Triyu 2 Nomor 60, RT 42, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong, Kamis (5/2/2026).
Kunjungan tersebut bertujuan menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa terkait teknik budidaya cacing tanah secara langsung di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik pengelolaan usaha budidaya cacing tanah.
Dosen pembimbing sekaligus pimpinan STIE Tenggarong, Johansyah, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual agar mahasiswa memahami potensi usaha berbasis ekonomi kerakyatan.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana sebuah usaha dikelola, mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Budidaya cacing tanah ini memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan yang cukup besar,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/2/2026).
Adapun tujuan kunjungan meliputi mempelajari proses budidaya cacing tanah dari persiapan media, pemeliharaan hingga panen, mengetahui manfaat ekonomi dan lingkungan, mengamati manajemen usaha dan strategi pemasaran, meningkatkan keterampilan mahasiswa melalui praktik lapangan, serta menjalin kerja sama antara pihak kampus dan pelaku usaha.
Sementara itu, pemilik usaha budidaya cacing tanah, Aji Zikri Zulfian, mengatakan kapasitas produksinya saat ini mencapai 400–500 kilogram di wilayah Samarinda dan sekitar 200 kilogram di Tenggarong. Namun, menurutnya angka tersebut baru sekitar 60 persen dari potensi maksimal yang bisa dicapai.
“Usaha cacing ini kuncinya ada di perawatan. Cacing itu makhluk hidup, jadi pakannya dan lingkungannya harus dijaga. Medianya harus nyaman dan sesuai,” kata Zikri.
Ia menjelaskan jenis cacing yang dibudidayakan adalah African Night Crawler (ANC) dengan media campuran bahan organik. Salah satu media yang digunakan adalah baglog bekas media tanam jamur yang dinilai sangat mendukung pertumbuhan cacing. Namun, saat ini baglog tersebut tidak lagi gratis dan harus dibeli dengan harga sekitar Rp15 ribu per unit.
Selain media, faktor pakan menjadi penentu utama produksi. Untuk mengejar panen rutin, Aji menargetkan siklus produksi tiga bulan agar setiap minggu dapat memasok hampir 200 kilogram cacing ke pasar. Pakan utama yang digunakan adalah ampas tahu karena dinilai paling stabil dan kaya protein.
“Permintaan sebenarnya ada dan pasar masih terbuka. Tantangan saya justru di produksi, bagaimana menambah kapasitas tanpa biaya pakan dan kandang yang terlalu tinggi,” ujarnya.
Harga jual cacing ke pelanggan tetap berkisar antara Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas. Sekitar 70 persen konsumen berasal dari kalangan penghobi mancing, sementara sisanya untuk pakan ternak dan budidaya lanjutan.
Menurut Aji, pemasaran cacing tanah membutuhkan kepercayaan dan relasi yang kuat. “Tidak semua orang bisa langsung masuk ke pasar ini. Harus bangun kepercayaan dulu,” katanya.
Ia berharap melalui kunjungan mahasiswa STIE Tenggarong, pengetahuan tentang budidaya cacing tanah dapat semakin berkembang dan mendorong lahirnya wirausaha muda.
“Ilmunya sebenarnya ada, tapi kuncinya di praktik dan manajemen. Limbah organik sangat melimpah, asal diolah dengan benar,” tutupnya.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Tiga Rumah di Kuala Samboja Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Taman Ulin Tenggarong Terbengkalai, Warga Keluhkan Sampah dan Minim Perawatan
Libur Lebaran, Rainbow Slide di Tangga Arung Square Tarik Ribuan Pengunjung
Ruang Rekreasi Jadi Area Rawan, Taman Ulin Tenggarong Disorot
21 Tahun Jadi Petugas Kebersihan, Warga Loa Ipuh Syukuri Bingkisan Lebaran dari Pemkab Kukar
Polres Kutim Sediakan Mudik Gratis, Dua Bus Disiapkan untuk Layani Masyarakat