Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah.
TENGGARONG, SAMBARANEWS.COM, – Memasuki puncak musim kemarau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) meminta masyarakat meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan yang lebih mudah terdampak cuaca panas, debu maupun potensi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kelompok yang mendapat perhatian khusus meliputi bayi, balita, lanjut usia (lansia), serta masyarakat yang telah memiliki gangguan pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif lainnya.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah, mengatakan kondisi musim kemarau perlu diantisipasi sejak dini meski paparan asap karhutla saat ini belum dirasakan secara signifikan di sebagian besar wilayah.
“Memang sudah mulai kemarau mungkin sejak awal Agustus ini, artinya antisipasi tetap harus dilakukan oleh masyarakat terutama dan juga fasilitas kesehatan. Kalau terkait asapnya mungkin belum terlalu terasa,” ujar Ismi saat ditemui, Rabu (12/8/2026).
Menurut Ismi, cuaca panas dan kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi tubuh, khususnya ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Dinkes menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak diperlukan. Jika harus bepergian, penggunaan masker dapat dilakukan untuk mengurangi paparan debu maupun asap.
Masyarakat juga dapat menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari debu serta mengenakan pakaian yang menutupi kulit guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.
“Kalau memang tidak perlu keluar rumah, dihindari. Kalau harus keluar rumah, gunakan misalnya masker untuk menghindari debu atau kalau ada asap. Kemudian gunakan kacamata kalau memang diperlukan karena mata juga berpotensi terpapar debu,” katanya.
Kewaspadaan tersebut sejalan dengan masih tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kukar. Dinkes mencatat sekitar 1.600 kasus ISPA hingga 12 Agustus 2026.
Jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus yang tercatat di sejumlah puskesmas. Sebelumnya, kasus ISPA di Kukar berada di kisaran 2.200 kasus pada Juni dan meningkat menjadi sekitar 2.600 kasus pada Juli.
Ismi menyebut kenaikan kasus ISPA memang mulai terlihat di sejumlah wilayah. Namun, peningkatannya belum tergolong tajam dan belum dapat disimpulkan berkaitan langsung dengan kabut asap karhutla.
“Jadi saya cek di puskesmas, rata-rata meningkat, meskipun grafiknya tidak langsung meningkat tajam seperti itu. Memang ada peningkatan, hanya satu-dua saja, tidak meningkat signifikan,” jelasnya.
Dari pemantauan Dinkes, kenaikan kasus ISPA terjadi di hampir seluruh wilayah Kukar. Meski demikian, terdapat sejumlah puskesmas yang belum mencatat peningkatan berarti.
Untuk wilayah pesisir, peningkatan kasus juga ditemukan di beberapa daerah. Namun, kondisi tersebut tidak seragam. Puskesmas Muara Badak, misalnya, belum menunjukkan peningkatan berarti, sementara wilayah Samboja mulai mengalami kenaikan kasus.
“Pesisir ada peningkatan semuanya. Tapi Muara Badak belum ada peningkatan di puskesmas Muara Badak. Kadang-kadang Muara Badak ada dua kasus. Tapi kalau untuk Samboja misalnya ada peningkatan,” pungkas Ismi.
Wartawan: Kusma


Korban Dugaan Keracunan Makanan MBG di Sebulu Bertambah Jadi 85 Orang, Orang Tua Minta Evaluasi Program
Alfamidi Gandeng Puskesmas Teluk Dalam Edukasi 90 Keluarga Balita soal Kesehatan Gigi
Alfamidi Salurkan 1.500 Butir Telur untuk Dukung Percepatan Penurunan Stunting di Samarinda
Peringati Hari Lingkungan Hidup, 80 Tukik Penyu Lekang Dilepas ke Laut Balikpapan
Waspada Campak di Kukar, Dinkes Perkuat Mitigasi dan Prioritaskan Vaksinasi Nakes
Iuran BPJS Kelas 3 Masih Dibayar? Ini Penjelasan BPJS Kesehatan Kukar
Ramah Tamah Sambut Kajari Kukar, Pemkab Perkuat Sinergi Penegakan Hukum dan Pembangunan
Pemkab PPU Beri Apresiasi atas Komitmen TJSL Alfamidi Branch Samarinda
Alfamidi Salurkan 9.000 Telur untuk 25 Anak dalam Program Pencegahan Stunting di Palaran
Aktivitas Bakar Lahan Masih Jadi Ancaman, BPBD Kukar Tingkatkan Kewaspadaan