Momen kebersamaan dalam konferensi pers Festival Memory of Yupa 2025 di Taman Tanjong Tenggarong, Jumat malam (17/10/2025)
Tenggarong, Sambaranews.com – Di tanah tempat prasasti Yupa berdiri, semangat lama kembali hidup. Festival Memory of Yupa 2025 menjadi wadah bagi masyarakat Kutai Kartanegara untuk menulis ulang kebanggaan mereka terhadap sejarah bangsa.
Konferensi pers yang digelar pada Jumat (17/10/2025) di Taman Tanjong Tenggarong menandai dimulainya rangkaian menuju puncak festival yang akan berlangsung pada 15–16 November 2025 di Muara Kaman, situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mulawarman — kerajaan Hindu tertua di Nusantara.
Kepala Nagapore Productions, Dedy Nala, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Muara Kaman memiliki makna mendalam. Di tempat inilah tujuh prasasti Yupa ditemukan, menjadi bukti nyata awal peradaban di Indonesia.
“Kita ingin agar kegiatan ini benar-benar memutar ulang memori sejarah. Suasana dan kearifan lokal Muara Kaman akan membuat pengunjung lebih merasakan nuansa masa lalu. Harapannya, situs ini tidak hanya diakui secara nasional, tetapi juga dunia melalui pendaftaran ke UNESCO,” ujarnya.
Dedy menambahkan, pengakuan dari UNESCO nantinya akan menjadi kebanggaan baru bagi bangsa Indonesia, bahwa di tepian Sungai Mahakam terdapat salah satu situs warisan dunia yang menjadi bagian dari peradaban global.
Dalam kesempatan itu, Dedy juga mengumumkan tiga lomba utama yang akan digelar menjelang Festival Memory of Yupa, yaitu Lomba Menulis Cerita Rakyat, Lomba Feature untuk Wartawan, dan Lomba Video Kreatif.
- Lomba Menulis Cerita Rakyat (Terbuka untuk Umum)
Lomba ini gratis dan terbuka bagi semua kalangan — pelajar, ibu rumah tangga, hingga jurnalis.
Dengan tema “Menulis Cerita, Merawat Budaya,” peserta diajak menulis kisah rakyat atau legenda yang hidup di sekitar Muara Kaman, seperti Legenda Dana atau Putri Bedarah Putih.
Tulisan minimal 1.500 kata dan harus orisinal. Karya akan diseleksi oleh juri dari Diarpus Kukar, dan 15 karya terbaik akan dibukukan menjadi kumpulan cerita rakyat Kutai Kartanegara. - Lomba Menulis Feature (Khusus untuk Wartawan)
Bertema “Rahasia di Balik Prasasti Yupa,” lomba ini mendorong jurnalis menggali sisi lain dari sejarah dan makna Yupa. Tulisan minimal 2.000 kata, harus orisinal, informatif, dan dilengkapi data pendukung, foto, atau grafis. Peserta wajib mencantumkan identitas media dan sumber rujukan resmi. - Lomba Video Kreatif (Terbuka untuk Umum)
Masyarakat diajak membuat video bertema sejarah Yupa dan budaya Kutai dalam format Instagram Reels berdurasi 2–4 menit.
Format video bebas — dokumenter, vlog, atau kreatif — selama tidak mengandung unsur SARA, politik, atau pelanggaran hak cipta. Semua karya akan menjadi arsip digital resmi Diarpus Kukar untuk pelestarian budaya lokal.
“Intinya, kami ingin kegiatan ini bukan hanya nostalgia sejarah, tetapi juga wadah kreativitas masyarakat. Melalui lomba-lomba ini, kita semua ikut merawat ingatan kolektif dan memperkuat kebanggaan terhadap budaya Kutai,” jelas Dedy.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar, Rinda Desianti, menjelaskan bahwa banyaknya lomba bertema menulis merupakan langkah untuk membangun kembali budaya literasi di Kutai Kartanegara.
“Secara sejarah, masyarakat Kutai memiliki tradisi lisan yang sangat kuat seperti tarsul, bemamai, bekesah, dan mendongeng, tetapi tidak banyak tradisi tulis-menulis seperti di Jawa atau Sulawesi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Diarpus berupaya menggabungkan dua tradisi: menulis dan bercerita. Harapannya, hasil karya peserta dapat menjadi bahan untuk dongeng anak, buku cerita, hingga film pendek bertema budaya di masa depan.
“Cerita rakyat bukan sekadar legenda, tetapi sarana menyampaikan pesan moral lintas generasi. Dengan menulis dan mendokumentasikannya, kita telah berkontribusi menjaga memori bangsa,” tutur Rinda.
Dedy Nala menegaskan, Festival Memory of Yupa 2025 bukan hanya perayaan sejarah, melainkan gerakan literasi budaya. Diarpus Kukar berharap kegiatan ini dapat menjadi strategi kebudayaan daerah sekaligus memperkuat posisi Kutai Kartanegara sebagai pusat sejarah Nusantara.
“Kami ingin masyarakat bangga bahwa peradaban tertua di Indonesia ada di Muara Kaman. Melalui menulis, bercerita, dan berkarya, kita bisa memperkenalkan sejarah Kutai ke dunia,” pungkas Dedy.
Rangkaian lomba dan kegiatan pra-festival akan berlangsung mulai 13 hingga 16 November 2025 di Muara Kaman, bertepatan dengan puncak Festival Memory of Yupa.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak baru kebangkitan literasi dan sejarah lokal Kutai Kartanegara dari tepian Mahakam, untuk dunia.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Bupati Kutai Barat Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pelatihan Kemasan Produk
Usai Dikeluhkan Pedagang, Kebijakan Tarif Lapak Bazar Ramadan Direvisi
Terkendala Efisiensi Anggaran, Pembangunan Pabrik Pakan Ikan di Loa Kulu Tertunda
Air Bangar Kembali Muncul, DKP Kukar Imbau Pembudidaya Ikan Lakukan Langkah Antisipasi
Optimalkan Sumur HPPO, Pertamina Hulu Mahakam Tambah Produksi Minyak Handil 2.000 BPH
Kesempatan Jadi Paskibraka 2026, Kesbangpol Kukar Mulai Sosialisasi ke Sekolah