Puji Utomo dan Erwan Riyadi berbincang dalam sesi “Ngapeh” di kawasan Titik Nol Tenggarong, Sabtu malam (11/10/2025).
Tenggarong, Sambaranews.com – Suasana malam di kawasan Titik Nol Tenggarong tampak berbeda pada Sabtu malam (11/10/2025). Usai rangkaian pertunjukan seni dalam Pekan Kebudayaan Daerah Kutai Kartanegara (Kukar) 2025, acara dilanjutkan dengan sesi “Ngapeh”, yakni dialog santai tentang budaya, literasi, dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Puji Utomo, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, serta Erwan Riyadi, Pembina Gerakan Literasi Kukar. Suasana bincang-bincang berlangsung hangat dan inspiratif, membahas bagaimana kebudayaan menjadi ruh pembangunan daerah sekaligus bagian dari strategi pemajuan karakter masyarakat.
“Budaya itu bukan sekadar panggung hiburan. Kami ingin memulai Pekan Kebudayaan Daerah ini dengan sesuatu yang mendidik, seperti workshop perfilman bagi pelajar SMP yang membuat film pendek bertema budaya dan berbahasa Kutai,” ujar Puji Utomo.
Ia menegaskan, kegiatan tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkenalkan budaya lokal melalui medium modern. Film-film karya pelajar ini nantinya akan ditayangkan dalam puncak Pekan Kebudayaan pada 20–25 Oktober 2025.
Selain itu, puncak kegiatan juga akan diwarnai dengan Malam Anugerah Kebudayaan, sebagai bentuk apresiasi terhadap seniman dan pelaku budaya yang konsisten melestarikan seni tradisi di Kutai Kartanegara.
“Banyak pelaku budaya yang sudah lama berkarya namun belum terdokumentasi atau mendapat dukungan memadai. Melalui Anugerah Kebudayaan, kita ingin memberikan penghargaan dan pengakuan bagi mereka,” tambah Puji.
Sementara itu, Erwan menyoroti pentingnya sinergi antara literasi budaya dan literasi digital dalam menjaga eksistensi tradisi lokal di tengah arus globalisasi. Menurutnya, digitalisasi seharusnya menjadi sarana memperkuat budaya, bukan melemahkannya.
“Budaya itu hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Cara kita berpakaian, makan, dan bekerja semuanya budaya. Nah, literasi membantu masyarakat memahami makna di balik itu semua. Justru dengan digitalisasi, budaya kita bisa lebih dikenal luas, asal disajikan dengan nilai yang benar,” jelasnya.
Erwan menambahkan, Disdikbud Kukar berupaya menciptakan ruang literasi digital budaya, misalnya melalui informasi berbasis QR di kawasan wisata dan ruang publik agar masyarakat dapat mengakses data budaya secara langsung.
Selain edukasi dan apresiasi, rangkaian Pekan Kebudayaan juga akan diisi dengan ziarah ke makam Sultan ke-19 Kutai Kartanegara, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan tokoh-tokoh pendiri peradaban lokal.
Menariknya, bulan Oktober juga bertepatan dengan Hari Kebudayaan Kutai Kartanegara, yang ditetapkan setiap 24 Oktober. Karena itu, seluruh rangkaian kegiatan tahun ini disusun bertepatan dengan momentum tersebut, sebagai refleksi akan pentingnya kebudayaan dalam membangun karakter daerah.
“Kami ingin masyarakat sadar bahwa inilah identitas kita orang Kutai. Pekan Kebudayaan bukan sekadar hiburan, tapi ruang belajar dan refleksi,” tutup Erwan dalam sesi Ngapeh yang disambut tepuk tangan penonton malam itu.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Bupati Kutai Barat Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pelatihan Kemasan Produk
Usai Dikeluhkan Pedagang, Kebijakan Tarif Lapak Bazar Ramadan Direvisi
Terkendala Efisiensi Anggaran, Pembangunan Pabrik Pakan Ikan di Loa Kulu Tertunda
Air Bangar Kembali Muncul, DKP Kukar Imbau Pembudidaya Ikan Lakukan Langkah Antisipasi
Optimalkan Sumur HPPO, Pertamina Hulu Mahakam Tambah Produksi Minyak Handil 2.000 BPH
Kesempatan Jadi Paskibraka 2026, Kesbangpol Kukar Mulai Sosialisasi ke Sekolah