
Odah Permainan Tradisional. *
Sambaranews.com, KUKAR – Di tengah kesibukan kota Tenggarong, tepatnya di Taman Pintar yang terletak di samping Perpustakaan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sebuah inovasi menarik hadir untuk menjaga kelestarian budaya lokal. “Odah Permainan Tradisional”, yang diinisiasi oleh Abdul Aziez Rahman, seorang pustakawan, membawa kembali permainan-permainan tradisional yang sudah mulai terlupakan oleh masyarakat.
Inisiatif ini diluncurkan dengan tujuan untuk memperkenalkan kembali permainan etam bahari yang merupakan bagian dari warisan budaya Kutai Kartanegara. Dalam pelaksanaannya, “Odah Permainan Tradisional” tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi wadah yang mempererat hubungan antarwarga serta menciptakan ruang bagi generasi muda untuk memahami dan merasakan langsung permainan tradisional yang penuh dengan kearifan lokal.
Menurut Aziez, yang akrab disapa Aziz, ide untuk menggagas “Odah Permainan Tradisional” ini berawal dari keinginannya untuk menghidupkan kembali permainan-permainan yang dulunya menjadi hiburan rakyat. Salah satu permainan yang diperkenalkan di sini adalah begasing, yang dimainkan dengan cara tradisional, tanpa menggunakan alat modern. Selain begasing, permainan lain yang dapat dicoba oleh pengunjung adalah enggrang dan sendal terompa. Dengan fasilitas sederhana, lebih dari 20 orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, dapat bergabung dan merasakan langsung serunya bermain permainan tradisional.
Peluncuran “Odah Permainan Tradisional” merupakan wujud nyata dari fungsi perpustakaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang memandang perpustakaan sebagai tempat pendidikan, edukasi, dan rekreasi. Dengan adanya fasilitas ini, perpustakaan di Kukar berperan tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai pusat kegiatan budaya yang turut menjaga kelestarian warisan budaya lokal.
Lebih dari sekadar tempat bermain, “Odah Permainan Tradisional” juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi di masyarakat. Melalui kegiatan bermain tradisional seperti begasing, masyarakat memiliki kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dan membangun kebersamaan. Aziz berharap tempat ini akan menjadi jembatan untuk menjaga kearifan lokal dan merawat warisan budaya yang ada.
Meski kegiatan ini telah berjalan dengan baik, Aziz mengungkapkan bahwa masih ada beberapa tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan fasilitas yang ada di lokasi. Ia berharap di masa depan, “Odah Permainan Tradisional” dapat berkembang lebih baik, menyediakan lebih banyak permainan tradisional lainnya, serta menjadi tempat wisata edukasi yang menarik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah.
“Ke depan, kami berharap tempat ini dapat menjadi pusat pelestarian budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya menjaga warisan budaya,” ungkap Aziz. */