Idhamsyah, Kepala SPPG Jalan Panjaitan, Kecamatan Tenggarong, saat ditemui Rabu (18/2/2026).
Tenggarong, Sambaranews.com – Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Seiring dengan itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian mekanisme distribusi.
Mengacu pada ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN), pelayanan MBG selama Ramadan diatur melalui Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan Program MBG pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah serta Libur Tahun Baru Imlek 2026 yang ditandatangani Kepala BGN.
Kepala BGN, Dadan, menjelaskan bahwa pelayanan penuh tetap diberikan kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita usia 6–59 bulan.
Dalam ketentuan tersebut, pendistribusian MBG tidak dilakukan pada periode cuti bersama dan libur Tahun Baru Imlek, yakni 16–17 Februari 2026. Pada awal Ramadan, yakni 18–22 Februari 2026, layanan juga ditiadakan dan akan kembali berjalan mulai 23 Februari 2026.
Sementara itu, Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Panjaitan, Kecamatan Tenggarong, mulai mengoperasikan layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk tingkat sekolah pada Senin, 23 Februari 2026.
Kepala SPPG Jalan Panjaitan, Idhamsyah, menjelaskan dapur tersebut melayani sejumlah sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah Tenggarong.
“Untuk pelaksanaan MBG di tingkat sekolah, dapur ini mulai beroperasi pada hari Senin, 23 Februari 2026. Kami melayani beberapa sekolah tingkat SD dan SMP,” ujarnya saat ditemui, Rabu (18/2/2026).
Untuk tingkat SD, sekolah yang dilayani meliputi SD 01, SD 03, SD 011, dan SD 018. Sementara untuk tingkat SMP meliputi SMP 1 dan SMP 2.
Saat ini, pelayanan MBG untuk siswa masih menyesuaikan masa libur sekolah. Namun secara operasional dapur tetap berjalan. Sementara dapur MBG lain di Tenggarong pada 16–21 Februari telah melayani kelompok 3B, yaitu ibu menyusui, ibu hamil, dan balita.
“Untuk dapur ini, kami masih fokus untuk ke sekolah-sekolah dan belum melayani kelompok 3B. Harapan ke depan, kelompok 3B juga akan kami layani, namun kemungkinan akan dibagi terlebih dahulu karena kapasitas dapur saat ini sudah over,” jelasnya.
Selama bulan Ramadan, mekanisme pembagian MBG mengalami penyesuaian. Pembagian dapat dirapel untuk tiga hari sekaligus dan disalurkan pada pagi hari untuk kemudian dikonsumsi saat berbuka puasa.
Menu yang disajikan berupa makanan kering atau makanan yang lebih tahan lama, namun tetap memenuhi standar gizi.
“Walaupun menu kering, tetap ada karbohidrat, buah, dan protein. Perhitungan kebutuhan gizi dilakukan oleh ahli gizi dan anggaran oleh bagian akuntansi. Semua divisi berkolaborasi agar seimbang,” jelas Idhamsyah.
Pada hari biasa, menu yang disajikan berupa makanan siap santap seperti nasi dan lauk pauk rumahan. Perbedaan utama selama Ramadan terletak pada jenis makanan yang lebih tahan lama, namun standar keamanan pangan dan gizi tetap dijaga.
Sejauh ini, tidak ada teguran atau protes dari orang tua siswa terkait kualitas makanan MBG. Kritik yang masuk umumnya bersifat teknis, seperti kondisi buah yang terlalu matang, dan langsung ditindaklanjuti pada hari yang sama.
Evaluasi kinerja petugas juga dilakukan secara rutin melalui rapat internal. Setiap divisi dipimpin oleh leader yang mengarahkan relawan sekaligus melakukan evaluasi pelayanan.
“Kalau sudah baik kita tingkatkan, kalau ada kekurangan langsung kita benahi. Koordinasi antar divisi terus dijaga,” katanya.
Program MBG tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Di dapur SPPG Jalan Panjaitan, terdapat 52 orang pekerja yang terlibat.
Selain itu, orang tua siswa merasakan manfaat penghematan pengeluaran harian. Uang yang sebelumnya digunakan untuk bekal anak kini dapat dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bahkan, terdapat siswa yang mengaku baru pertama kali menikmati makanan bergizi lengkap dari program tersebut.
“Ini menunjukkan masih ada anak-anak yang membutuhkan, dan program ini sangat membantu,” tuturnya.
Di sisi lain, para pemasok bahan pangan dan petani juga merasakan dampak positif karena adanya kepastian pembeli dari program MBG.
Secara keseluruhan, program MBG di Tenggarong dinilai memberi manfaat luas bagi siswa, orang tua, tenaga kerja dapur, hingga para pelaku usaha dan petani lokal
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Tiga Rumah di Kuala Samboja Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Taman Ulin Tenggarong Terbengkalai, Warga Keluhkan Sampah dan Minim Perawatan
Libur Lebaran, Rainbow Slide di Tangga Arung Square Tarik Ribuan Pengunjung
Ruang Rekreasi Jadi Area Rawan, Taman Ulin Tenggarong Disorot
21 Tahun Jadi Petugas Kebersihan, Warga Loa Ipuh Syukuri Bingkisan Lebaran dari Pemkab Kukar
Polres Kutim Sediakan Mudik Gratis, Dua Bus Disiapkan untuk Layani Masyarakat