Kondisi kawasan hutan tanaman industri (HTI) PT Itci Hutani Manunggal (IHM) di Gunung Angin, Kutai Kartanegara, yang tampak gundul pasca aktivitas penebangan.
Kutai Kartanegara, Sambaranews.com – Banjir setinggi lebih dari satu meter sempat merendam jalan poros Kilometer 40 di wilayah Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Senin (2/2/2026). Banjir tersebut mengakibatkan akses jalan trans Kalimantan yang menghubungkan Tenggarong hingga Kutai Barat sempat terputus selama beberapa jam.
Kepala Desa Sanggulan, Fahrudin, menduga banjir tersebut dipicu oleh aktivitas penebangan hutan tanaman industri (HTI) milik PT Itci Hutani Manunggal (IHM) di kawasan Gunung Angin, tepatnya dari Kilometer 5 hingga Kilometer 16 yang masih berada di wilayah Desa Sanggulan.
“Di kawasan Gunung Angin itu ada anak sungai yang bermuara ke Sungai Sepan. Sungai Sepan inilah yang meluap akibat hujan, lalu alirannya menuju Sungai Kedang Semelis dan berdampak sampai ke Desa Lebaho Ulaq,” ujar Fahrudin melalui sambungan telepon, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, Sungai Sepan menerima limpahan air dari kawasan hulu yang mengalami pengundulan akibat penebangan HTI. Ketika hujan turun, air langsung mengalir deras ke wilayah hilir dan menyebabkan banjir di sejumlah desa, termasuk Sanggulan, Selerong, Senoni, dan Tanjung Harapan.
Menurut Fahrudin, kawasan HTI yang telah dipanen diperkirakan mencapai sekitar seribu hektare, bahkan bisa lebih. Sementara luas wilayah administratif Desa Sanggulan mencapai 4.910 hektare, dengan sekitar 4.083 hektare di antaranya masuk kawasan HTI, yang artinya hampir 90 persen dari wilayah desa.
“Penebangan masih berlangsung, terutama di Kilometer 16. Saat saya pantau menggunakan drone pada hari kejadian, aktivitas memang terlihat berhenti, tetapi hauling masih ada,” ujarnya.
Banjir di Kilometer 40 menyebabkan genangan sepanjang sekitar 80 hingga 100 meter di badan jalan yang berada di celah pegunungan. Dampaknya meluas karena kemacetan kendaraan mengular hingga sekitar lima kilometer.
“Air mulai naik sejak pagi hari. Jalan baru bisa dilewati sekitar pukul 14.00 Wita, itu pun belum sepenuhnya surut. Saat saya tiba di lokasi sekitar pukul 15.30, masih ada genangan,” jelas Fahrudin.
Selain mengganggu akses jalan nasional, banjir juga merendam kebun-kebun masyarakat di wilayah bawah. Tanaman cabai dan komoditas lainnya rusak akibat terendam air bercampur pasir dan diperkirakan tidak bisa diselamatkan.
Fahrudin menyebut, pihak desa belum melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke Dinas Kehutanan maupun instansi terkait. Namun pihaknya berencana segera menyampaikan laporan tertulis dan berharap mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Fahrudin juga mengingatkan potensi banjir susulan masih sangat besar apabila hujan kembali turun dalam beberapa hari ke depan.
“Kemarin hujan hanya sekitar tiga jam, tapi banjirnya sudah separah itu. Kalau hujan berhari-hari, dampaknya pasti lebih parah,” katanya.
Ia berharap ke depan pemerintah dapat meninjau kembali aktivitas penebangan HTI, terutama pemberian izin PT IHM yang berdekatan dengan kawasan permukiman.
“Kami tidak melarang adanya kegiatan HTI. Tapi kami berharap penebangan jangan dilakukan di bawah Pos 19 yang sudah dekat kampung dan jalan aspal, karena dampaknya pasti ke masyarakat dan Kilometer 40,” tutup Fahrudin.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


DPRD Kukar Dorong Skema Tahun Jamak Perbaiki Jalan Rusak Kota Bangun–Kenohan
Permudah Urusan SIM hingga STNK, Polantas Menyapa Jadi Andalan Satlantas Kukar
Pinjaman Rp820 Miliar Kukar Dipertanyakan, Bupati: untuk Bayar Rekanan dan Jaga Ekonomi
Puncak Nyepi Caka 1948 di Kerta Buana, Bupati Kukar Tekankan Harmoni dan Persatuan Umat
Aksi Mahasiswa Diwarnai Kekecewaan, Pemkab Kukar Jelaskan Ketidakhadiran Bupati
Mulai Jumat, Pemkab Kukar Berlakukan WFA bagi ASN, Layanan Publik Tetap Berjalan