Ketua Komunitas Permainan Tradisional Kalimantan Timur, Norsyamdani.
Tenggarong, Sambaranews.com – Permainan tradisional Belogo, salah satu warisan budaya masyarakat Kutai, kembali mendapat perhatian setelah sempat jarang dimainkan. Upaya pelestarian yang dilakukan komunitas dan pegiat budaya membuat permainan ini perlahan kembali dikenal, terutama di kalangan generasi muda.
Ketua Komunitas Permainan Tradisional Kalimantan Timur, Norsyamdani, mengungkapkan bahwa Belogo telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai dan dahulu dimainkan pada waktu-waktu tertentu.
“Belogo dulu bukan permainan harian, tetapi dimainkan pada momen tertentu seperti setelah panen, menjelang panen, atau saat membuka lahan. Pada masa itu, hampir setiap kampung ramai memainkannya,” ujar Norsyamdani saat ditemui di Bengkel Seninya, Rabu (4/2/2026).
Belogo tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai historis dan filosofis. Permainan ini menggunakan tempurung kelapa yang dilemparkan ke arah sasaran dengan jarak yang cukup jauh.
Norsyamdani menjelaskan, permainan tersebut erat kaitannya dengan aktivitas pertanian masyarakat Kutai di masa lalu.
“Sebelum turun ke sawah untuk merumputi padi, orang-orang biasa bermain Belogo. Gerakannya melatih kekuatan tangan, pinggang, dan kaki, sehingga tubuh lebih siap untuk bekerja,” katanya.
Permainan Belogo biasanya dimainkan secara berkelompok. Sasaran disusun berjajar ke belakang, dan setiap pemain memiliki target masing-masing yang harus dijatuhkan.
Menanggapi pandangan yang menyebut Belogo memiliki kemiripan dengan permainan dari daerah lain seperti Sulawesi atau Banjar, Norsyamdani menegaskan bahwa Belogo tetap memiliki identitas kuat sebagai permainan Kutai.
“Kesamaan bentuk permainan itu hal biasa. Namun, yang terpenting adalah bagaimana keaslian dijaga. Di Kutai, Belogo masih menggunakan tempurung kelapa asli tanpa tambahan bahan lain, dan bentuknya tidak berubah sejak dahulu,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Kutai sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara menjadi ruang berkembangnya berbagai tradisi dan budaya, termasuk permainan rakyat.
Sebagai bentuk penyesuaian dengan perkembangan zaman, Norsyamdani menghadirkan inovasi berupa varian Belogo yang dikenal dengan nama Shooting Point atau Blepo.
Pada versi ini, sasaran disusun menyamping sebanyak lima buah dengan jarak yang lebih pendek, yakni 3 meter, 6 meter, dan 10 meter, serta memiliki sistem penilaian berbeda di setiap jarak.
“Konsep ini dibuat agar lebih mudah dipelajari oleh pemula, terutama pelajar. Jika Belogo tradisional jaraknya bisa mencapai 30 sampai 50 meter, tentu tidak semua anak mampu langsung memainkannya,” jelasnya.
Varian tersebut dinilai lebih ramah bagi pelajar dan kini mulai diperkenalkan di sekolah-sekolah serta dipertandingkan dalam berbagai kegiatan budaya.
Meski komunitas khusus Belogo masih terbatas, jumlah pemainnya terbilang cukup banyak, terutama saat ada perlombaan atau festival budaya.
“Komunitasnya memang belum banyak, tapi setiap ada lomba, peminatnya selalu ramai,” katanya.
Ke depan, Norsyamdani berharap Belogo tidak lagi hanya dimainkan pada momen tertentu, melainkan bisa menjadi permainan yang dimainkan secara rutin, seperti halnya gasing yang telah lebih dulu berkembang.
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak ragu memainkan permainan tradisional.
“Permainan tradisional bukan sesuatu yang kuno. Di dalamnya ada nilai budaya, moral, dan filosofi yang penting untuk diwariskan,” tuturnya.
Selain itu, ia berharap adanya dukungan lebih besar dari pemerintah dalam upaya pelestarian permainan tradisional, mulai dari pendanaan, penyediaan fasilitas, hingga penyelenggaraan kegiatan.
“Komunitas tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan agar permainan tradisional Kutai ini bisa terus hidup dan berkembang,” pungkasnya.
Wartawan: Kusma
Editor: leeya


Tiga Rumah di Kuala Samboja Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Taman Ulin Tenggarong Terbengkalai, Warga Keluhkan Sampah dan Minim Perawatan
Libur Lebaran, Rainbow Slide di Tangga Arung Square Tarik Ribuan Pengunjung
Ruang Rekreasi Jadi Area Rawan, Taman Ulin Tenggarong Disorot
21 Tahun Jadi Petugas Kebersihan, Warga Loa Ipuh Syukuri Bingkisan Lebaran dari Pemkab Kukar
Polres Kutim Sediakan Mudik Gratis, Dua Bus Disiapkan untuk Layani Masyarakat